Pengantar

Halo rekan-rekan semua,

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa.

Sebelumnya atas nama ADGI SUB perkenankan saya sekali lagi mengucapkan terima kasih atas kesediaan rekan-rekan untuk mengisi poling pemetaan skena desainer grafis Surabaya. Hasilnya akan kami jadikan sebagai acuan dalam menyusun program kerja ADGI SUB 2015-2017. Saya meyakini bahwa relevansi program ADGI SUB harus berdasar pada kondisi dan kebutuhan kita sebagai praktisi desain grafis yang berprofesi di Surabaya. Memang implementasi program akan lebih lambat realisasinya, namun bukankah kita menginginkan program yang sesuai?

Perlu saya kabarkan pula, dari hasil Rakernas ADGI pada tanggal 27-28 Februari 2015 di Jakarta kemarin bahwa ADGI sudah berbadan hukum dan diakui keberadaannya oleh negara melalui Keputusan Mentri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia nomor: AHU-00004.AH.02.04.TAHUN2014 dan secara nasional kita sedang bergerak serentak untuk perwujudan sertifikasi profesi.

Terkait tentang keanggotaan ADGI khususnya Surabaya, selain untuk mendapatkan manfaat langsung, saya berharap bahwa rekan-rekan bergabung dengan asosiasi ini untuk bergerak bersama-sama mengangkat martabat profesi kita, desainer grafis, yang hari ini masih jauh dari ideal.

Tim ADGI SUB telah menyusun laporan hasil poling dimana datanya dapat rekan-rekan ketahui dan gunakan secara langsung. Kami menyajikan laporan ini dalam bentuk interaktif dengan tujuan agar rekan-rekan tetap bisa berkontribusi memberikan sudut pandang yang tentu saja dapat mempertajam proses penyusunan program nantinya. Bersamaan dengan laporan ini pula, ijinkan saya untuk memperkenalkan pengurus serta menawarkan rencana program ADGI SUB 2015-2017.

Akhir kata kami menyadari laporan ini belum sempurna, oleh karenanya kami berharap urun ide rekan-rekan, terlebih kesediaan bergerak untuk profesi kita bersama dalam ADGI.

Salam,

Bayu Prasetya
Ketua ADGI SUB

Laporan

Laporan Survei ADGI Surabaya

Sebagai desainer grafis, terutama ketika mendapat tautan untuk mengisi survei dari Asosiasi Desainer Grafis Indonesia (ADGI), tentu kita sama-sama mengetahui apa itu ADGI. Dari rilis resmi, ADGI adalah organisasi berbasis keanggotaan yang terdiri dari profesional Indonesia di bidang desain grafis. Definisi yang sederhana dan mudah dipahami.

Pemahaman yang sederhana tersebut menjadi sedikit lebih rumit, jika pertanyaan selanjutnya adalah apakah kita tahu fungsi utama ADGI. Dari hasil survey ini, separoh lebih sedikit (51%) ternyata tidak mengetahui fungsi utama ADGI, sisanya (49%) cukup percaya diri untuk menjawab bahwa mereka tahu tentang fungsi utama ADGI.

Bagi yang pesimis, tugas kami dalam merancang program di kepengurusan kali ini akan cukup susah karena ada separuh lebih calon anggota ADGI yang tidak mengetahui mengenai fungsi utama ADGI. Bagi yang optimis, tugas kami akan cukup mudah karena hampir separuh calon anggota sudah tahu mengenai fungsi utama ADGI. Kami berusaha realistis.Kami berusaha untuk merancang program yang bisa memenuhi fungsi utama ADGI tersebut dengan cara mendialogkan bersama kondisi berpraktek dan persepsi desainer grafis yang akan menjadi anggota ADGI di chapter kami, Surabaya.

Informasi: • Anda dapat menanggapi tiap kalimat dan paragraf di halaman laporan ini secara langsung. • Anda juga dapat mengirimkan esai tanggapan anda ke adgisub@gmail.com

Profil Responden

Mari kita urai satu per satu dengan melihat hasil survei pertama kami. Dari 126 responden survei ADGI pertama ini, profilnya banyak didominasi oleh anak muda. Sebanyak 92% berusia antara 20 hingga 35 tahun. Hanya sepuluh orang yang berusia lebih dari 35 tahun.

Lebih dari separuh (53%) baru berpraktek antara 0-2 tahun. Akan ada banyak asumsi dan pertanyaan dari data ini. Mengapa tidak banyak desainer grafis senior yang mengisi survei ini? Apakah ADGI sudah tidak relevan bagi mereka? Menurut kami, tidak ada salahnya mengkritisi hal ini. Namun ada dua catatan penting.

Pertama, survei ini dilakukan menggunakan formulir online (Typeform), seluruh pengisian surveinya dilakukan secara online. Kedua, survei ini disebarkan melalui akun media sosial ADGI SUB dan pengurusnya, situs Ayorek dan juga situs C2O Library. Jangkauan media dan lingkaran penyebaran akan memunculkan beberapa keterbatasan dalam melihat hasil keseluruhannya. Dengan tidak mengesampingkan keterbatasan tersebut, kami berharap langkah ini merupakan awal untuk bisa melakukan pendataan tentang desain dan desainer grafis di Surabaya, sekaligus memulai diskusi di awal tahun ini.

Sekarang, anggaplah survei ini merepresentasikan kondisi calon anggota ADGI di Surabaya, maka dalam 0-2 tahun terakhir terjadi lonjakan jumlah desainer grafis yang berprofesi di Surabaya (100% lebih jika dibanding tahun-tahun sebelumnya). Apa yang bisa dipelajari dari hal ini? Bagaimana kualitasnya dan apa yang perlu dipersiapkan oleh ADGI SUB? Sudut pandang lain, terdapat 25% kolega kita yang mampu bertahan lebih dari 5 tahun di Surabaya. Jika dilihat dari sisi positifnya, apa yang membuat mereka masih bisa bertahan hingga saat ini? Apa yang bisa dipelajari oleh yang lebih muda? Jika kita melihat hasil survei selanjutnya, bisa jadi salah satu jawabannya adalah banyak-banyaklah mencari teman.

Jaringan Pertemanan dan Portofolio Online

Sebagai seorang profesional, salah satu kebutuhan penting untuk bisa bertahan hidup adalah kemampuan mendapatkan klien. Melalui jaringan pertemanan merupakan cara yang paling banyak dipilih oleh para responden kami. Lingkaran sosial pertemanan bagi 63% responden memiliki peran penting dalam mendukung kelancaran rejeki.

Pada diagram juga terlihat bahwa melalui portfolio online adalah cara kedua paling banyak yang digunakan oleh responden untuk mendapatkan klien. Internet memegang peranan penting, sekaligus jalur alternatif bagi mereka yang melek teknologi untuk bisa menunjukkan eksistensi dan mendapatkan pasar yang cocok. Anak-anak muda identik dengan cara ini.

Jaman Untuk Para Freelancer?

Menjadi freelancer adalah salah satu pilihan siasat untuk bisa berprofesi di Surabaya. Tentu harusnya banyak pertimbangan untuk menjadi pekerja lepas, selain angan-angan untuk bisa kerja di mana saja, menikmati hidup bebas tidak terikat sambil mengerjakan proyek yang sesuai kata hati dan renjana. Apakah kenyataannya seperti itu? Belum tentu. Banyak resiko harus dihadapi seorang freelancer, dari ketiadaan jaminan pemasukan tetap hingga jaminan asuransi kesehatan. Terlepas dari itu semua, freelancer merupakan pilihan terbanyak responden untuk bisa berprofesi di Surabaya. Sebanyak 38% memilih untuk menjadi freelancer, 23% bekerja di biro desain, 20% menjadi desainer grafis in-house. Sisanya sebanyak 19% berprofesi terkait bidang desain grafis seperti menjadi pengajar, game developer, animator, dll.

Dengan pilihan-pilihan seperti ini, bagaimanakah pendapatan perbulan mereka? Angka tertinggi sebanyak 45% menunjukkan pendapatan di bawah Rp 2,7 juta (di bawah UMR Surabaya), 55% sisanya memiliki pendapatan di atas UMR, dengan 4% di dalamnya memiliki pendapatan di atas Rp 15 juta. Dengan melihat ini, apakah berprofesi di Surabaya merupakan pilihan untuk bisa hidup secara layak? Bagaimana potensi ke depannya? Kita perlu melihat peta industri yang didukung oleh jasa desain grafis.

Keterkaitan dengan Industri Lainnya

Penghidupan desainer grafis sangat terkait pada industri lainnya. Kue terbesar yang memberi penghidupan bagi desainer grafis Surabaya paling banyak datang dari sektor F&B (food and beverages) dengan angka 38%. Sisanya tersebar dari sektor pemerintahan, M.I.C.E. (Meetings, Incentives, Conferencing, Exhibitions), properti, perbankan, klien personal, industri rokok, kesehatan dan pendidikan. Dengan persebaran seperti itu, Surabaya sebenarnya memiliki keanekaragaman sektor industri yang menarik untuk bisa berkembang bersama. Tanpa mengesampingkan fakta bahwa Jakarta tentu masih merupakan pusat perputaran uang dan kebijakan-kebijakan strategis perusahaan besar (termasuk kebijakan desain komunikasi visualnya), mungkin sebaiknya kita bisa lebih jeli melihat peluang dan menampilkan diri ke calon klien di rumah sendiri. Atau mungkin masalahnya tidak sekedar kita kurang jeli dan gagap menampilkan diri?

Pendidikan Desain

Dalam survei kali ini, kami juga ingin melihat bagaimana persepsi para desainer grafis terhadap hal-hal yang berhubungan dengan dunia keprofesian mereka.Salah satunya adalah bidang pendidikan, cara para profesional memandang bidang pendidikan menurut kami menarik untuk disimak. Pendidikan yang baik akan mencetak kolega, kompetitor dan kolaborator yang baik. Hasil survei menunjukkan bahwa 21% responden kami menilai pendidikan desain grafis Surabaya baik, sementara angka yang sama menunjukkan bahwa pendidikan desain grafis di Surabaya dianggap buruk.

Dari skala 1 sampai 5, antara sangat negatif ke sangat positif, rata-rata menunjukkan angka 3,04 yang artinya berada pada anggapan bahwa pendidikan di Surabaya dinilai cukup. Penilaian cukup ini sebenarnya bermakna ambigu. Bisa jadi cukup baik, atau cukup buruk. Namun sebagai langkah awal, memahami betul apa yang menjadi masalah dan menyebarkan apa yang sudah baik tentu akan membuat pendidikan desain grafis Surabaya menjadi lebih bermutu.

Serba Lumayan

Selain bidang pendidikan, banyak pula jawaban tentang persepsi menunjukkan angka rata-rata di tengah, yaitu kondisi yang dianggap cukup. Tidak baik namun juga tidak buruk. Tidak susah namun juga tidak gampang. Yah, lumayan. Lihat grafik di atas, semuanya jatuh pada wilayah lumayan.

Ketika ditanya bagaimanakah apresiasi klien terhadap jasa desain di Surabaya? Rata-rata menjawab lumayan (A= rata-rata 2,72). Di pasar Surabaya, semudah apa anda dapat menjangkau calon klien potensial? Rata-rata pun lumayan (B= rata-rata 2,71). Pertanyaan lainnya, mengenai kondisi persaingan jasa/usaha desain grafis di Surabaya. Jawabannya? lumayan juga (C= rata-rata 3,10). Mengenai free pitching, seberapa sering anda menemui pekerjaan yang mengharuskan anda mengikuti free pitching? Yah lumayan juga (D= rata-rata 2,67). Bahkan jika kami ikut melakukan pemeringkatan dan rata-rata untuk kondisi pasar ke depan,dari lesu hingga sangat menjanjikan, hasilnya adalah di angka 2,69 (E). Lumayan.

Bayangkan ketika kita mendapat pertanyaan mengenai kondisi yang terjadi pada kita dan akhirnya keluar jawaban bahwa kita sedang berada dalam kondisi yang lumayan. Seperti itulah kondisi desain grafis Surabaya. Surabaya saat ini dari sudut pandang rata-rata calon anggota ADGI adalah Surabaya yang lumayan. Kita mampu untuk bersiasat dan melakukan taktik-taktik akrobatik untuk bisa bertahan hidup hingga ke level yang lumayan.

ADGI: Dapatkah Mendorong dari Lumayan ke Lebih Baik?

Dengan kondisi ini, apa relevannya ADGI hadir di Surabaya? Apa yang dibutuhkan anggotanya? Ketika kami memberikan beberapa pilihan, berikut jawabannya. Sebanyak 40% dari responden membutuhkan asosiasi desainer grafis untuk memfasilitasi usaha berjejaring anggotanya. Sebanyak 24% membutuhkan legalitas dan perlindungan hukum untuk anggotanya, 23% membutuhkan untuk pengembangan kemampuan dan 11% merasa ADGI juga harus menyediakan lapangan kerja.

Kami menawarkan beberapa ide awal untuk menindaklanjuti kebutuhan para calon anggota ADGI SUB tersebut. Kami mengerucutkannya dalam 10 rencana awal dan kami masih terbuka untuk berdialog mengenai program-program tambahan. Batasan kami cuma dua. Waktu dan biaya . Waktu kepengurusan kami 2 tahun, dengan biaya tergantung jumlah anggota yang terkumpul. Dari beberapa program ini, manakah yang harus kami prioritaskan untuk dilakukan terlebih dahulu selama 1 tahun ini? Silahkan memilih 3 yang utama.

Tentu kami tetap terbuka untuk menerima masukan lain di luar rancangan di atas. Silahkan menambahkan ide lain. Program apa yang bisa membuat kondisi Surabaya yang dianggap lumayan ini tidak menjadi buruk. Setelah sekian lama, mungkin memang sudah waktunya kondisi lumayan ini beranjak menjadi baik.

Jika anda tertarik menerima kabar (dan tertarik menjadi anggota) ADGI SUB di masa mendatang, silakan cantumkan alamat email anda dibawah.

Pengurus

  • Bayu Prasetya Ketua

  • Ardy Tanto Deputi Program

  • Jimmy Ofisia Deputi Keanggotaan

  • Ari Kurniawan Deputi Riset dan Edukasi

  • Indra Syamsu Deputi Humas dan Kemitraan

  • Andriew Budiman Koordinator Badan Pertimbangan

  • Christian Ang Koordinator Badan Akademik

Segenap tim pengurus ADGI SUB mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas partisipasi, saran dan dukungan rekan-rekan sekalian. Jika berkenan, silakan bagi tautan laporan ini kepada kawan atau kolega seprofesi di Surabaya dan sekitarnya.